LINGKARPENDIDIKAN.COM – KOMPAS.com – Hari ini, Topan Super Ragasa dikabarkan melanda Hong Kong dan wilayah Cina selatan, menjadikannya salah satu badai paling mematikan dan terkuat yang pernah terjadi dalam beberapa dekade terakhir.
Menurut laporan South China Morning Post, badai ini terasa di Delta Sungai Mutiara menjelang tengah hari, sebelum akhirnya semakin dekat ke daratan. Pusat Meteorologi Nasional Cina mencatat bahwa angin kencang, hujan deras, serta gelombang laut setinggi 7 meter diperkirakan akan terus berlangsung hingga Kamis (25/9/2025).
Dengan kecepatan angin mencapai 212 km/jam di kota Zhuhai, Ragasa diklasifikasikan sebagai super typhoon atau topan super, sebuah kategori badai yang setara dengan Kategori 5 di Atlantik, level tertinggi dalam sistem pengukuran siklon tropis
Apa itu Topan Super Ragasa? Dilansir dari Forbes, Topan Super Ragasa adalah badai tropis sangat intens yang terbentuk di Samudra Pasifik Barat pada pertengahan September 2025.
Badai ini lahir dari laut yang sangat hangat di utara Yap, kemudian berkembang cepat karena dukungan atmosfer yang sangat kondusif: suhu laut tinggi, geseran angin rendah, serta sistem aliran keluar radial yang kuat.
Pada 22 September 2025, Ragasa resmi meningkat menjadi topan super setelah kecepatan anginnya mencapai 165 mph (285 km/jam). Dalam klasifikasi internasional, badai disebut super typhoon bila kecepatan angin berkelanjutan selama satu menit mencapai minimal 240 km/jam.
Dengan angka 285 km/jam, Ragasa masuk ke jajaran badai paling kuat dalam sejarah modern, mendekati batas kekuatan maksimum siklon tropis yang diperkirakan sekitar 322 km/jam (200 mph).
Menyebabkan kerusakan dari Filipina ke Taiwan Sebelum menghantam Hong Kong, Ragasa lebih dulu menerjang Filipina dan Taiwan.
Filipina (18–22 September 2025)
Ragasa pertama kali muncul di timur Filipina pada 18 September. Setelah periode rapid intensification (intensifikasi cepat), badai ini mencapai kategori 5 pada 21 September dengan kecepatan angin 270 km/jam. Luzon utara terkena dampak paling parah: banjir besar, tanah longsor, kerusakan parah pada pertanian dan infrastruktur. Puluhan ribu warga mengungsi, listrik padam meluas, dan banyak korban jiwa dilaporkan.
Menurut NASA Earth Observatory, satelit Terra MODIS menangkap citra badai ini pada 23 September, menunjukkan struktur pusaran yang sempurna dan berdiameter raksasa.
Taiwan Di Taiwan,
Kementerian Kesehatan melaporkan 14 orang meninggal dunia, 34 orang terluka, dan 152 orang masih hilang. Hujan deras dan angin kencang merusak banyak bangunan serta memicu longsor di area pegunungan. Kerusakan di kedua negara ini menegaskan betapa dahsyatnya Ragasa, bahkan sebelum mencapai daratan Cina.
Hong Kong dan Guangdong dalam status “Siap Tempur” Memasuki Cina selatan, Provinsi Guangdong meningkatkan status peringatan badai ke Level 1, tingkat tertinggi dalam sistem empat skala peringatan. Dilansir dari South China Morning Post, pemerintah setempat menyatakan kondisi ini sebagai status “siap tempur”.
Evakuasi massal: lebih dari 371.000 orang telah dievakuasi. Transportasi lumpuh: di pusat teknologi Shenzhen saja, 210 penerbangan keberangkatan dan 319 penerbangan kedatangan dibatalkan. Semua bus, taksi, kereta bawah tanah, hingga jalan tol ditutup sejak Selasa malam. Sekolah dan bisnis berhenti total: lebih dari 10 kota di Guangdong menutup sekolah, pasar, pusat bisnis, dan transportasi. Aktivitas ekonomi pun terhenti, memengaruhi puluhan juta orang. Kesiapsiagaan masyarakat: warga menimbun makanan, air, hingga baterai cadangan. Toko dan bisnis memperkuat bangunan dengan lakban, mengikat perabotan luar ruangan, serta melindungi jendela. Upaya pencegahan: pemerintah daerah memangkas pohon, memeriksa lorong bawah tanah, lokasi konstruksi, dan wilayah pegunungan untuk mengantisipasi longsor.
Menurut ramalan cuaca Guangdong, badai ini akan mendarat di daratan antara Taishan dan Xuwen pada Rabu sore atau malam.
(Red)
