LINGKARPENDIDIKAN.COM – KOMPAS.com – Talita Alya Nabilah, siswi kelas 12 MIPA 7 Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kota Malang, meraih medali emas dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2025 bidang Biologi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Oktober 2025 lalu.
Siswi berusia 17 tahun ini membagikan perjalanannya yang tidak mudah, termasuk strategi persiapan khusus dan tantangan terberat selama kompetisi. Talita mengungkapkan, selain pembinaan dari sekolah, dirinya memaksimalkan persiapan dengan mengikuti pelatihan eksternal. “Saya juga mengikuti pembinaan dari luar,” ujar Talita pada Senin (3/11/2025).
Pelatihan eksternal ini banyak diincar Ia menjelaskan, dirinya mengikuti pelatihan dari Tim Olimpiade Biologi Indonesia (TOBI). Menurutnya, pelatihan eksternal ini banyak diincar, terutama menjelang OSN, karena sesuai kebutuhan seperti menyediakan sesi praktikum.
“Mereka menyediakan pelatihan buat praktikumnya. Jadi kayak memberi gambaran kira-kira gimana sih praktikum biologi nanti di OSN,” jelas Talita. Biaya untuk pelatihan eksternal tersebut tidak murah. Talita menyebut angkanya mencapai sekitar Rp 5,5 juta.
“Untungnya sekolah itu memberi subsidi 50 persen, jadi itu termasuk salah satu dukungan dari sekolah,” katanya. Tantangan terberat di OSN 2025 Perjuangan Talita tidak hanya soal persiapan materi. Ia menceritakan tantangan terberat di OSN 2025, yakni saat menjalani babak teori dan praktikum. Pada babak teori terdiri dari dua sesi A dan B yang dikerjakan dalam satu hari, masing-masing selama tiga jam.
“Total waktu enam jam. Nah itu tuh menurut saya yang perlu dijaga itu stamina-nya,” ungkapnya. Ia merinci, setiap sesi berisi 50 soal dengan format Benar-Salah (BS-BS) yang memiliki empat pernyataan. Peserta di bidang ini harus mengerjakan 200 pernyataan dalam tiga jam. “Itu perlu analisis sama interpretasi, logikanya juga harus cepat mainnya, biar nanti kekejar waktunya,” tutur Talita.
Sementara untuk babak praktikum, tantangannya adalah manajemen waktu dan mental. Terdapat empat subtema praktikum, yang masing-masing berdurasi satu setengah jam.
“Harus jaga stamina juga, enggak boleh down. Kalau misalnya di praktikum pertama jelek, itu harus jaga mood, biar nanti praktikum selanjutnya itu kembali segar, tetap semangat, tidak pesimis,” tambahnya.(Red)
