LINGKARPENDIDIKAN.COM – KOMPAS.com – Kamu pasti sering mendengar celetukan ketika ditanya mirip siapa dari segi wajah atau karakter, termasuk soal kecerdasan. Ternyata, kecerdasan tidak hanya dipengaruhi oleh rajin belajar, tingkat pendidikan, nutrisi, atau lingkungan sosial saja. Hal ini juga bisa dijelaskan secara ilmiah melalui faktor keturunan genetik. Jadi, bukan hanya rambut tebal, bentuk wajah, atau tinggi badan yang diwarisi dari ayah dan ibumu, tetapi juga kecerdasan yang ada dalam dirimu.
Dilansir dari Psychology Spot, Selasa (26/8/2025) diperkirakan sebesar 40 hingga 60 persen kecerdasan bersifat turun menurun. Sementara, sisanya tergantung pada karakteristik pribadi, lingkungan sekitar, dan stimulasi yang diterima oleh anak.
Dilansir dari Psychology Spot, Selasa (26/8/2025) diperkirakan sebesar 40 hingga 60 persen kecerdasan bersifat turun menurun. Sementara, sisanya tergantung pada karakteristik pribadi, lingkungan sekitar, dan stimulasi yang diterima oleh anak.
Sebagai tambahan informasi, kromosom adalah sebuah struktur dalam tubuh manusia yang berbentuk benang panjang di dalam inti sel. Di dalamnya terdapat DNA yang fungsinya menyimpan sekaligus membawa informasi genetik terkait perkembangan dan pertumbuhan, termasuk dalam hal pewarisan sifat dari induk ke keturunan. Dalam tubuh seorang laki-laki dan perempuan memiliki jenis kromosom yang berbeda. Laki-laki umumnya memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y. Sedangkan, perempuan memiliki dua kromosom X.
Dari segi jumlah jenis kromosom penentu kecerdasan, perempuan atau ibu artinya memiliki probabilitas lebih tinggi untuk mewarisi kecerdasannya pada anak-anak mereka.
Unit Ilmu Sosial dan Kesehatan Masyarakat Dewan Riset Medis di Glasgow menunjukkan bahwa IQ anak-anak cenderung serupa dengan ibu mereka. Ditemukan bahwa hanya ada perbedaan sebesar kurang lebih 15 poin. Selain itu, laman Diario AS dan Tech Explorist juga menjelaskan perihal temuan peneliti Cambridge bahwa gen ibu berkontribusi dalam fungsi perkembangan otak yang lebih tinggi. Dengan demikian, ibu cerdas berpotensi melahirkan anak yang cerdas, meskipun ayahnya tidak tergolong pandai. Gen-gen dari ibu didominasi di korteks serebral anak, yaitu area otak penting untuk memori, perhatian, bahasa, persepsi, kesadaran, dan berpikir. Sebaliknya, gen ayah lebih aktif di sistem limbik otak, yang berperan dalam pertumbuhan jaringan seperti plasenta pada embrio.
Akan tetapi, ada penemuan lain yang menarik. Meski utamanya diwarisi oleh ibu, ayah juga turut berkontribusi melalui sistem limbik.
Dalam pemecahan masalah matematika atau fisika yang sederhana pun, limbik juga tetap berperan karena otak bekerja secara keseluruhan.(Red)
