LINGKARPENDIDIKAN.COM – KOMPAS.com – Mungkin sebagian besar siswa kelas 12 ingin melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri (PTN). Untuk mewujudkan hal itu, tentunya harus diimbangi dengan belajar tekun dan juga berdoa. Seperti Moh. Dani As Syarif tak pernah absen menyelipkan satu harapan dalam doanya yakni bisa kuliah di perguruan tinggi. Harapan itu terus ia panjatkan, meski realitas hidupnya tampak enggan berpihak. Keterbatasan ekonomi sempat membuatnya nyaris memendam cita-cita. Namun, keyakinannya tak pernah luruh. Dan akhirnya, harapan itu menemukan jalannya di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Dani, penghafal atau hafiz Qur’an 11 juz asal Gresik, sempat diterima melalui jalur mandiri reguler di Program Studi S-1 Kimia Unesa. Sayangnya, biaya Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) atau
Ayahnya, Zainus Syafi’i, yang sebelumnya bekerja sebagai operator alat berat, sudah tiga tahun terakhir berhenti bekerja karena komplikasi penyakit dan stroke. Sedangkan ibunya, Badriyah, adalah ibu rumah tangga yang kini hanya mengandalkan bantuan dari anak sulung mereka.
“Sampe jual rumah pun gapapa, karena saya tahu anak saya ini mampu akademisnya. Sayang kalau dia tidak lanjut kuliah,” ujar sang ibu dengan mantap dikutip dari laman Unesa, Minggu (10/8/2025). Dani sempat limbung. Setelah tak lolos jalur SNBT (Seleksi Nasional Berdasarkan Tes), ia mengaku hampir menyerah.
Ia mulai mencari jalur mandiri di berbagai kampus dan juga melamar pekerjaan, tetapi belum satu pun yang membuahkan hasil. “Waktu itu saya sempat bingung. Mau kuliah uangnya dari mana, mau kerja juga belum ada panggilan,” kenangnya. Namun di tengah kebuntuan itu, Dani menyadari satu hal hafalan Qur’annya bisa menjadi jalan terang.
Ia pun mendaftar jalur prestasi tahfidz di Unesa, yang memberikan keringanan biaya kuliah, termasuk pembebasan SPI (Sumbangan Prestasi Institusi) dan UKT (Uang Kuliah Tunggal). Usahanya berbuah manis, Dani resmi diterima sebagai mahasiswa baru Unesa. “Alhamdulillah, saya bersyukur sekali akhirnya bisa masuk Unesa lewat jalur tahfidz ini. Saya janji akan kuliah sungguh-sungguh, supaya bisa membanggakan ayah dan ibu, bisa mengangkat derajat mereka,” tutur lulusan SMA Assa’adah Bungah Gresik itu.
Kini, Dani bersiap mengawali babak baru di Unesa, membawa harapan dan semangat yang telah ia rajut sejak lama. Ia percaya, setiap tantangan yang datang bukanlah akhir, tetapi awal dari perjalanan yang akan membentuk dirinya menjadi insan yang kuat dan bermakna. Terangi negeri dengan literasi, satu buku bisa membuka ribuan mimpi. Lewat ekspedisi Kata ke Nyata, Kompas.com ingin membawa ribuan buku ke pelosok Indonesia. Bantu anak-anak membaca lebih banyak, bermimpi lebih tinggi.(Red)
