LINGKARPENDIDIKAN.COM – KOMPAS.com – Beberapa siswa mengkritisi pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang dinilai terlalu terburu-buru dan membuat stres. Carissa Taharah (17) misalnya, ia merasa persiapannya belum cukup untuk menjalani TKA dan bahkan merasa sangat tersiksa dalam mempersiapkan TKA.
Hal itu disebabkan, sampai waktu H-3 bulan belum ada kepastian terkait materi TKA dan membuatnya dan tempat bimbingan belajarnya (Bimbel) bingung. “Dalam waktu H-3 bulan itu juga belum ada persiapan yang benar-benar pasti, Itu menurut saya sangat menyiksa,” kata Carissa di SMAN 78 Jakarta, Senin (3/11/2025).
Sudah luangkan waktu untuk belajar persiapan TKA Carissa menilai kebijakan TKA ini diterapkan terlalu terburu-buru tanpa melihat kesibukan siswa di sekolah ataupun di tempat bimbingan belajar.
Setiap hari, Carissa juga sudah meluangkan waktu 7-12 jam untuk belajar termasuk mempersiapkan diri ikut TKA. “Jangan terburu-buru dalam mengambil kebijakan karena enggak semuanya sesuai apa yang Bapak (mendikdasmen) inginkan,” ujarnya. Dalam kesempatan yang sama dengan Carissa, Nabila Bilqis (17) juga merasa kebijakan ini terlalu terburu-buru diterapkan dan membuat siswa kelas 12 tidak maksimal dalam melakukan persiapan.
Siswa sarankan sosialisasi TKA mulai kelas 11 Seharusnya, menurut Nabila, pemerintah bisa melakukan uji coba TKA selama satu tahun terlebih dahulu agar siswa mendapat bayangan terkait pelaksanaannya. “Misalnya pas kita kelas 11, harusnya udah mulai disosialisasikan (ada TKA). Nah mungkin kalau misalnya TKA-nya benar-benar mau diterapin buat ke SNBP. Itu saran aku sih diterapinnya di angkatan bawah kita,” ucap Bilqis. Ketika TKA diterapkan pada angkatan di bawahnya, tambah Bilqis maka siswa akan lebih siap melakukan persiapan termasuk untuk masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN).
“Karena kan mereka udah dapet TKA itu sebenernya kayak gimana pelaksanaannya. Jadi mereka mungkin kan bakal lebih matang persiapannya buat masuk ke PTN,” jelasnya.(Red)
