LINGKARPENDIDIKAN.COM – KOMPAS.com – Melatih kedisiplinan dan tanggung jawab pada anak kerap menjadi salah satu tantangan bagi sebagian besar orangtua. Ternyata ada sejumlah cara yang dapat dilakukan orangtua untuk melatih kedisiplinan anak tanpa hukuman maupun sogokan. Head of Partnership Sekolah Murid Merdeka, Yulia Indriati mengenalkan metode Disiplin Positif sebagai salah satu cara menumbuhkan rasa disiplin anak.
Dalam webinar Anak Disiplin tanpa Hukuman dan Sogokan, Gimana Caranya? yang diadakan Sekolah Murid Merdeka x Gramedia, Yulia memaparkan bagaimana cara menerapkan metode disiplin positif.
Yulia menjelaskan, metode ini dinamakan disiplin positif karena rasa disiplin itu tumbuh dari dalam diri sendiri, bukan karena takut akan tuntutan atau hukuman dari orang lain.
“Sudah banyak penelitian yang dilakukan. Disiplin positif mengarahkan kita kepada perilaku positif, baik yang mendisiplinkan atau yang menjalani disiplin itu,” jelasnya. Tak hanya itu, disiplin positif juga menggambarkan self-discipline karena datang dari kemauan sendiri sehingga lebih hakiki. Disiplin yang terbentuk melalui metode ini bersifat jangka panjang dan akan melekat sebagai karakter.
Untuk menerapkan disiplin positif pada anak, Yulia menyampaikan butuhnya rutinitas harian yang terjadwal dengan baik. Rutinitas harian ini harus dimulai sejak anak berusia dini dan dengan memperhatikan beberapa aspek seperti kesiapan usia dan sifat bawaan anak. Tak hanya itu, orangtua diminta mampu menjalankan rutinitas ini secara konsisten, agar anak juga terbiasa melakukannya.
Kesepakatan bersama sebagai alat disiplin positif
Untuk menerapkan disiplin positif pada anak, orangtua bisa membuat kesepakatan bersama terlebih dahulu. Dibanding aturan,Yulia menjelaskan kesepakatan ini akan lebih membekas pada anak karena disusun atas persetujuan 2 belah pihak, yakni orang tua dan anak.
“Kenapa bukan aturan? Nah itu dia yang biasanya membuat tata tertib jadi tidak efektif saat penerapannya. Karena saat pembuatannya ya hanya 1 arah, dari orang tua kepada anak,” jelasnya. Lebih lanjut, Yulia menjelaskan kesepakatan ini berangkat dari paradigma anak sebagai objek yang harus selalu menuruti orang tua. “Itu yang akhirnya membuat disiplin positif tidak terbentuk,” tambah Yulia.
(Red)
