LINGKARPENDIDIKAN.COM – KOMPAS.com – Mahasiswa Fakultas Kedokteran Zakky Al Abror berhasil meraih IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) hampir sempurna yakni 3,99 saat wisuda bersama Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), Sabtu (25/10/2025). Prestasi Zakky ini bukan tanpa perjuangan penuh ketekunan.
Mahasiswa asal Lamongan ini lahir dari pasangan Suhaji, seorang perawat di RSUD dr. Soegiri Lamongan dan Rusmiati, seorang ibu rumah tangga penuh kasih sayang. Keluarganya sangat menjunjung pendidikan. “Sejak saya kecil, orangtua selalu membimbing saya belajar bahkan sebelum masuk SD.
Ayah dan ibu menanamkan bahwa belajar adalah investasi terbaik. Mereka sering berkata, ‘Belajarlah setinggi-tingginya tanpa memikirkan biaya, karena uang bisa dicari, tapi pendidikan tak bisa diulang,’” kenang Zakky, dikutip dari situs UM Surabaya, Minggu (26/10/2025).
Sering lihat ayah tolong tetangga yang sakit Terbiasa melihat sang ayah praktik sebagai perawat di rumah dan membantu warga sekitar sejak kecil, muncul keinginannya untuk menjalani profesi yang memberi manfaat bagi orang banyak.
“Saya sering melihat ayah menolong tetangga yang sakit, dan dari situ saya berpikir, saya juga ingin bisa membantu orang lain seperti beliau,” ujar bungsu dari dua bersaudara ini. Kakaknya lebih dulu menempuh pendidikan kedokteran dan menjadi dokter, semangat Zakky pun kian membara.
Dekat dengan dunia kesehatan, Zakky menuturkan bahwa keluarganya mengajarkan untuk selalu menolong orang lain. “Saya sadar, IPK 3,99 ini bukan hasil saya sendiri, tapi doa dan kerja keras ayah dan ibu. Saya hanya perpanjangan dari usaha mereka,” tuturnya haru.
Ditolak di banyak kampus negeri Sebelum bisa mencatatkan IPK menakjubkan, Zakky pernah melalui masa kelam ketika dulu ditolak Fakultas Kedokteran di berbagai perguruan tinggi negeri. “Saya gagal di semua jalur FK PTN.
Tapi saya tidak mau berhenti di situ. Saya melihat FK UM Surabaya punya prospek bagus dan berkembang cepat, dan ternyata keputusan itu tidak salah,” ujarnya. Di awal perkuliahan ia juga mengalami culture shock karena beratnya beban tugas dan sistem blok yang ketat. Tetapi dengan manajemen waktu yang disiplin dan motivasi yang kuat, ia mampu beradaptasi.
“Saya sempat kewalahan, tapi kemudian saya buat sistem belajar yang konsisten. Kuncinya bukan metode, tapi komitmen. Sekecil apapun, kalau dilakukan terus-menerus hasilnya besar,” jelasnya. Menurutnya tidak ada metode belajar yang ajaib.
Kuncinya konsistensi dan disiplin diri. “Saya selalu menargetkan nilai A di setiap blok. Kalau suatu waktu saya malas, saya harus siap dengan konsekuensinya. Jadi saya biasakan belajar setiap hari, menyicil materi sedikit demi sedikit,” ungkapnya.(Red)
