LINGKARPENDIDIKAN.COM – KOMPAS.com – Pemerintah menyiapkan pembukaan 148 program studi (Prodi) baru di 57 fakultas kedokteran, termasuk spesialis dan subspesialis. Ia juga menargetkan akan ada 30 fakultas kedokteran baru. “Target saya akan ada 30 fakultas kedokteran baru insya Allah untuk mengejar tadi 70.000 spesialis dan dokter umum kekurangannya adalah 140.000. Kalau tidak ya kita tunggu 35 tahun,”
kata Presiden Prabowo Subianto dikutip dari laman resmi Sekretariat Presiden, Kamis (28/8/2025). Menurut Prabowo, Indonesia masih kekurangan sekitar 70.000 dokter spesialis, dengan produksi dokter spesialis hanya sekitar 2.700 per tahun. Kepala Negara menegaskan, jika kondisi ini dibiarkan, maka butuh waktu hingga 35 tahun untuk memenuhi kekurangan tersebut.
“Jadi kita harus berupaya dengan langkah-langkah yang tidak bisa normatif. Mengejar pembangunan Indonesia, mengejar kesejahteraan Indonesia, tidak bisa business as usual, tidak bisa. We have to work harder, we have to do our best,” ujarnya.
Selain itu, lanjut Prabowo, pemerintah juga menargetkan pembangunan 500 rumah sakit berkualitas tinggi di seluruh kabupaten dalam empat tahun ke depan. Melalui berbagai visi tersebut, Presiden Prabowo menegaskan keyakinan bahwa Indonesia mampu mengejar ketertinggalan di bidang kesehatan.
“Di hati kita kalau kita punya niat, insyaallah kita akan mencapai itu. We have the resources, we have to manage our resources,” ucapnya. Prabowo juga menilai pendidikan dan kesehatan merupakan hak dasar rakyat sekaligus wujud nyata demokrasi. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya tata kelola yang bersih dalam sektor kesehatan.
“Pendidikan yang terbaik dan kesehatan yang terbaik hanya bisa diwujudkan kalau tidak ada korupsi, kalau tidak ada manipulasi, kalau tidak ada kebocoran. Setiap rupiah yang membeli alat-alat terbaik di dunia harus sampai ke rakyat,” tuturnya. “Kita harus menggunakan segala kemampuan kita untuk mencapai cita-cita kita, yaitu kesehatan dengan pelayanan terbaik untuk seluruh rakyat Indonesia,” pungkas Prabowo.
Di Universitas Indonesia misalnya, terdapat dua jenis biaya utama bagi mahasiswa baru, yaitu UKT (Uang Kuliah Tunggal) dan IPI (Iuran Pengembangan Institusi).
UKT adalah biaya kuliah yang dibayarkan setiap semester oleh seluruh mahasiswa. IPI adalah biaya satu kali bayar yang dikenakan kepada mahasiswa jalur seleksi mandiri. Bagi mahasiswa yang masuk melalui jalur SNBP dan SNBT tidak dikenakan IPI. Kisaran biaya kuliah kedokteran di UI sebagai berikut:
Uang Kuliah Tunggal (UKT) UKT 1: Rp 500.000 UKT 2: Rp 1.000.000 UKT 3: Rp 2.000.000 UKT 4: Rp 4.000.000 UKT 5: Rp 6.000.000 UKT 6: Rp 7.500.000 UKT 7: Rp 10.000.000 UKT 8: Rp 12.500.000 UKT 9: Rp 15.000.000 UKT 10: Rp 17.500.000 UKT 11: Rp 20.000.000
Iuran Pengembangan Institusi (IPI) IPI 1 (UKT 1–2): Rp 0 IPI 2 (UKT 3–4): Rp 60.000.000 IPI 3 (UKT 5–8): Rp 90.000.000 IPI 4 (UKT 9–11): Rp 120.000.000 Selain UI, Unair menerapkan skema pembiayaan berbasis Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan Iuran Pengembangan Institusi (IPI), sebesar:
Uang Kuliah Tunggal (UKT) UKT Kelompok I: Rp 15.000.000 UKT Kelompok II: Rp 20.000.000
Iuran Pengembangan Institusi (IPI) IPI I: Rp 99.000.000 IPI II: Rp 150.000.000 IPI III: Rp 225.000.000
Terangi negeri dengan literasi, satu buku bisa membuka ribuan mimpi. Lewat ekspedisi Kata ke Nyata, Kompas.com ingin membawa ribuan buku ke pelosok Indonesia. Bantu anak-anak membaca lebih banyak, bermimpi lebih tinggi.(Red)
