LINGKARPENDIDIKAN.COM – KOMUNITAS global pencinta buku, 1000 Libraries, melihat fungsi perpustakaan dan toko buku saat ini sudah lebih luas dari sekadar ruang untuk membaca. Seperti melansir dari laporan CNA Lifestyle, komunitas 1000 Libraries telah mengumumkan para finalis penghargaan tahunannya untuk ruang literasi terindah di dunia pada Rabu, 6 Agustus 2025.
Penghargaan ini secara khusus didedikasikan pada ruang-ruang literasi yang menonjol karena keindahan visual dan suasananya yang khas. Para finalis tersebut dipilih melalui pemungutan suara global yang diikuti oleh 200.000 pembaca selama dua bulan, setelah sebelumnya diseleksi dari 19 toko buku berdasarkan ulasan daring dan keterlibatan di media sosial.
Boekhandel Dominicanen menawarkan pengalaman yang unik karena berlokasi di dalam sebuah gereja gotik dari abad ke-13 yang telah direstorasi. Dari segi arsitektur, 1.000 Libraries menggambarkan toko buku bertingkat ini memadukan kemegahan arsitektur bersejarah dengan penataan kontemporer yang apik. Pengunjung dapat menelusuri beragam koleksi judul buku di bawah langit-langit berkubah yang menjulang tinggi dan di antara lukisan fresko asli yang dipertahankan.
Menurut laman resminya, Boekhandel Dominicanen pertama kali dibuka pada 2006 kemudian menjadi independen sejak 2014. Toko buku ini tidak hanya menyediakan beragam genre buku tetapi juga berbagai musik khusus dengan koleksi CD dan piringan hitam. Daya tarik utamanya terletak di area bekas panti imam gereja, yang kini dialihfungsikan menjadi kafe sekaligus panggung budaya. Di ruang inilah berbagai acara seperti diskusi buku, debat, dan pertunjukan musik rutin digelar.
Berlokasi tepat di seberang Katedral Notre-Dame yang megah di Paris, 1000 Libraries mendefinisikan Shakespeare and Company memiliki nilai historis yang tinggi. Toko buku berbahasa Inggris yang berdiri sejak 1951 ini telah lama menjadi ikon literasi di kota tersebut. Popularitasnya pun kembali melambung pada pertengahan dekade 2010-an saat foto-fotonya yang artistik tersebar luas di media sosial.
Seperti dilansir dari laman Shakespeare and Company, sejarah toko buku legendaris ini dimulai oleh George Whitman pada 1951. Awalnya bernama Le Mistral, Whitman mengubah namanya pada 1964 sebagai penghormatan kepada Sylvia Beach, pendiri toko buku Shakespeare and Company pertama pada 1919.
Meneruskan semangat tersebut, sejak hari pertama Whitman mempersilakan para penulis dan seniman untuk menginap di antara rak-rak buku. Para tamu yang dijuluki “Tumbleweeds” ini diminta untuk membaca satu buku setiap hari, membantu pekerjaan di toko, dan menulis otobiografi singkat satu halaman. Kumpulan otobiografi ini kini menjadi arsip unik yang merekam jejak ribuan “Tumbleweeds”. Warisan George Whitman ini kemudian dilanjutkan oleh putrinya, Sylvia Whitman, pada tahun 2006.
Menurut 1000 Libraries, El Ateneo Grand Splendid di Argentina menawarkan pengalaman yang terasa teatrikal. Hal ini karena toko buku tersebut menempati sebuah gedung teater bersejarah yang megah, dibangun pada tahun 1919. Berkat keunikannya, National Geographic pada 2019 pernah menobatkannya sebagai toko buku terindah di dunia.
Elemen-elemen asli teater dialihfungsikan secara cerdas untuk para pencinta buku. Panggung utamanya kini berfungsi sebagai sebuah kafe dengan pemandangan ke seluruh ruangan, sementara bilik-bilik penonton di balkon diubah menjadi ruang-ruang baca privat yang nyaman. Pengunjung pun dapat menikmati koleksi buku di bawah langit-langit kubah yang dilukis indah dengan detail ornamen asli yang masih dipertahankan.
Seperti dilansir dari ArchDaily, gedung ini pertama kali dibuka sebagai Teatro Grand Splendid pada 1919. Pada masanya, gedung ini tidak hanya menjadi panggung pertunjukan, tetapi juga memiliki studio radio dan menjadi tempat rekaman bagi para musisi tango legendaris seperti Carlos Gardel. Setelah sempat beralih fungsi menjadi bioskop, gedung ini akhirnya diubah menjadi toko buku pada 2000.
Berbeda dari toko buku pada umumnya, The Gently Mad Bookshop di Edinburgh adalah bisnis keluarga yang memiliki keahlian utama dalam seni jilid buku (bookbinding). Menurut 1000 Libraries, tempat ini merupakan lokasi mendiang Ratu Inggris pernah menjilidkan koleksi bukunya.
Mereka mempunyai spesialisasi dalam jilid buku bersampul kulit dan kain, serta menawarkan jasa restorasi profesional untuk buku-buku kuno. Untuk koleksi yang dijual, toko ini berfokus pada buku bekas dan antik pilihan yang mencakup beragam topik, mulai dari literatur anak, seni, filsafat, hingga sejarah lokal.
Menurut 1000 Libraries, ungkapan “membaca dapat membawa kita ke dunia lain” terasa begitu harfiah saat mengunjungi Word on the Water di London. Toko buku unik ini berbentuk sebuah perahu tongkang dari 1920-an yang telah dialihfungsikan dan kini ditambatkan secara permanen di Regent’s Canal.
Di dalamnya, pengunjung dapat menemukan koleksi pilihan buku baru dan bekas dalam bahasa Inggris. Daya tariknya tidak hanya terletak pada konsepnya yang terapung, tetapi juga beragam acara komunitas yang rutin digelar di atas dek perahu, seperti sesi pembacaan puisi dan lokakarya menulis.
Berdasarkan informasi dari Atlas Obscura, awalnya toko buku apung ini harus berpindah-pindah lokasi setiap dua pekan sesuai peraturan. Namun, berkat dukungan kuat dari masyarakat, Word on the Water akhirnya mendapatkan izin untuk berlabuh secara permanen di Regent’s Canal. Kini, tempat ini telah menjadi lebih dari sekadar toko buku. Di musim dingin, tungku perapiannya menyala, memberikan kehangatan bagi para pembaca . Sementara di musim panas, atap tongkang ini berubah menjadi panggung untuk berbagai pertunjukan musik dan sastra.(Red)
