LINGKARPENDIDIKAN.COM – PERNYATAAN Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di atas memantik imajinasi sekaligus optimisme baru. Ia seakan menantang pandangan lama bahwa pesantren hanya menghasilkan ahli tafsir dan fiqih. Kini, visi besar itu membuka cakrawala baru: bagaimana jika pesantren menjadi tempat lahirnya inovator teknologi berakhlak, technopreneur yang berlandaskan iman dan ilmu? Namun, pertanyaannya kini bukan lagi apa mungkin, melainkan bagaimana caranya?
Bagaimana pesantren bisa menjadi pusat inovasi digital, siapa yang akan dicetak, kapan dimulai, dan apa syarat yang harus dipenuhi agar mimpi ini menjadi kenyataan? Pesantren dan ekosistem inovasi Islami Transformasi menuju pesantren digital menuntut desain ekosistem pendidikan yang menyatukan nilai spiritual dengan ilmu pengetahuan modern.
Pesantren tidak bisa hanya menambahkan pelajaran komputer, tetapi perlu merancang kurikulum berbasis STEAM-Islami — Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics yang berpijak pada nilai-nilai keislaman.
Kurikulum ini tidak sekadar menyiapkan santri agar “melek digital”, tetapi membentuk mereka menjadi pencipta solusi berbasis teknologi dan etika. Pendekatan ini sejalan dengan teori Triple Helix Innovation (Etzkowitz & Leydesdorff, 2000), yang menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan industri untuk melahirkan inovasi berkelanjutan.
Pesantren, dengan jejaring sosialnya yang luas dan nilai moral kuat, bisa menjadi simpul keempat dalam ekosistem ini — sebagai “jembatan moral” inovasi digital (Etzkowitz & Leydesdorff, 2000). Tidak semua santri harus menjadi insinyur teknologi. Peran mereka dapat dibagi dalam tiga lapisan. Pertama, santri unggulan yang diarahkan menjadi pengembang blockchain, insinyur robotik, atau peneliti bioteknologi halal.
Kedua, santri umum yang fokus pada penerapan teknologi untuk agribisnis, ekonomi pesantren, dan sistem sosial digital. Ketiga, ustadz dan pengelola pesantren yang berperan sebagai digital leader — pemimpin pembelajaran yang mampu menjembatani nilai agama dan inovasi.
Transformasi peran ini sejalan dengan teori Transformational Leadership (Bass & Riggio, 2006), yang menekankan pentingnya kepemimpinan visioner dan inspiratif untuk menggerakkan perubahan.(Red)
