LINGKARPENDIDIKAN.COM – KOMPAS.com – Indonesia bukan kekurangan orang cerdas maupun peneliti di bidang sains dan teknologi (saintek). Penemuan dan inovasi dari riset para ilmuwan tak pernah berhenti muncul. Namun seringkali hasil riset ini hanya berakhir diperlihatkan di pameran. Bukan justru diproduksi untuk membantu mengatasi permasalahan di dalam negeri. Atau bahkan seharusnya bisa menjadi produk nasional yang mengurangi ketergantungan kegiatan impor.
Penyebab temuan riset tak bisa diproduksi massal Direktur Minat Saintek Kemdiktisaintek, Prof Yudi Darma membeberkan penyebab tidak semua hasil temuan riset bisa diproduksi massal.
“Jadi, ya memang tidak semua karya-karya saintek itu bisa diproduksi massal. Itu ada suatu barrier lagi yang sangat penting, yang sangat besar. Untuk membawa hasil-hasil inovasi ini sampai ke pasar, apalagi untuk mass production, mungkin sering dengar istilah good value for debt,” ucap Yudi dalam kegiatan temu media pada Jumat (3/10/2025). “Dari prototype gitu, sampai kita meyakinkan inventor agar mau memproduksi massal itu, itu barrier cukup tinggi dan tebal.
Kata Yudi, tentunya barang hasil penemuan tersebut harus teruji dulu. “Kemudian, dari sisi cost nanti harus lebih murah daripada yang lain. Dan yang tidak kalah pentingnya, harus ada nanti calon konsumen,” ujarnya.
Cek harga jual dan calon konsumen Sebelum memproduksi secara massal, harus ditelusuri dulu bahwa ada yang akan memakai produk tersebut. Harga jual barang tersebut pun perlu dihitung dan ditentukan. “Kalau dibuat nanti mau berapa harganya? Kompetitif enggak? Jangan sampai nanti kita hasilkan harganya Rp 1.000, (barang) datang dari luar negeri nanti harganya cuma Rp 100. Enggak ada yang beli,” jelas Yudi.
(Red)
