LINGKARPENDIDIKAN.COM – KOMPAS.com – United Nations Children’s Fund (Unicef) memperkirakan 234 juta anak membutuhkan dukungan untuk mengakses pendidikan berkualitas. Angka ini meningkat sebanyak 35 juta dalam tiga tahun terakhir. Dari 234 juta anak-anak tersebut, 85 juta anak di antaranya tidak bersekolah sama sekali.
Terdiri dari 52 persen adalah anak perempuan, 17 persen adalah pengungsi atau pengungsi internal, dan lebih dari 20 persen adalah anak-anak penyandang disabilitas.
“Tidak ada anak yang boleh kehilangan haknya untuk belajar dan membangun masa depan: memastikan tersedianya guru yang terlatih, termotivasi, dan didukung berarti tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga perlindungan, harapan, dan kesempatan untuk hidup,” kata Nicola Graziano, Presiden Uncief Italia, dikutip dari Euronews, Selasa (7/10/2025).
Situasi berbagai negara Peperangan di Gaza turut membuat banyak anak tak bisa bersekolah. Unicef memaparkan, hingga Juli 2025 ada 1.466.000 anak kesulitan memperoleh pendidikan.
Lalu 588 gedung sekolah terdampak hingga Juni 2025. Sejumlah 538 sekolah di antaranya berada di Jalur Gaza dan 50 sekolah lainnya di Tepi Barat. Lebih dari 17 juta dari 19 juta anak usia sekolah di Sudan tidak bersekolah.
Di Haiti, meningkatnya kekerasan geng dan kerusuhan sipil telah menyebabkan lebih dari 1,4 juta anak sangat membutuhkan bantuan pendidikan. Indonesia sendiri memiliki lebih dari 4 juta anak putus sekolah, berdasarkan pernyataan Dirjen Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus, Tatang Muttaqin pada 30 Juni 2025.
Faktor penyebab Tanggal 5 Oktober 2025 kemarin Hari Guru Sedunia dirayakan. Unicef mendeskripsikan guru sebagai inti dari pendidikan berkualitas. Tetapi guru terus mengalami kekurangan investasi dan berkurangnya jumlah siswa.
Laporan Unicef pada 2024 mengungkapkan hanya 31 persen negara yang memiliki sistem pengembangan profesional guru yang efektif. Disebutkan pula bahwa jumlah anak-anak dan kaum muda putus sekolah (out of school children) mencapai sekitar 265 juta orang selama satu dekade terakhir. Perhitungan terbaru menunjukkan bahwa anak putus sekolah meningkat menjadi 272 juta pada tahun 2023.
Berinvestasi pada guru berarti berinvestasi pada masa depan Bagi Unicef, berinvestasi pada guru berarti berinvestasi pada masa depan. Namun Official Development Assistance (ODA) atau Bantuan Pembangunan Resmi untuk pendidikan pun akan berkurang sebesar 3,2 miliar dolar AS (Rp 51,2 triliun).
Nominal ini turun 24 persen dari tahun 2023. Penurunan ini akibatnya akan meningkatkan jumlah anak putus sekolah di seluruh dunia dari 272 juta menjadi 278 juta orang. Unicef berjanji akan terus berupaya memastikan setiap guru didukung, setiap kelas inklusif, dan setiap anak di mana pun di dunia dapat memiliki kesempatan untuk belajar.
(Red)
