LINGKARPENDIDIKAN.COM – KOMPAS.com – Ada cerita menarik dari mahasiswa baru yang berhasil lolos di Institut Teknologi Bandung (ITB). Di antara 5.286 mahasiswa program sarjana, terdapat dua mahasiswa yang harus menempuh sejauh 3.617 km dari Merauke menuju ITB. Mereka adalah Askal Arparandi dan Khalisya Afifah Laraswati, yang berasal SMA Negeri 2 Merauke. Keduanya kini resmi menjadi bagian dari keluarga besar Institut Teknologi Bandung (ITB). Mereka berdua tercatat sebagai mahasiswa baru program sarjana dengan jarak tempuh terjauh pada angkatan 2025.
Hal ini terungkap saat ITB menggelar Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru untuk Semester I Tahun Akademik (TA) 2025/2026 di Sasana Budaya Ganesa ITB.
Perjalanan panjang dari Merauke ke Bandung Perjuangan mereka untuk sampai di titik ini tidak mudah. Askal mulai menyiapkan diri sejak duduk di bangku kelas 10 SMA. Ia bertekad menembus ITB lewat jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Khalisya pun memiliki tekad serupa. Sejak kelas 11, ia sudah menargetkan diri bisa belajar di ITB.
“Di daerah saya tidak ada bimbel-bimbel ternama yang memfokuskan diri untuk UTBK, jadi niat belajar memang harus dimulai dari diri sendiri,” cerita Khalisya dikutip dari laman ITB, Rabu (24/9/2025). Meski fasilitas belajar di daerahnya terbatas, semangat mereka tak surut. Askal bahkan mencoba jalur Seleksi Mandiri (SM) ITB setelah belum berhasil lolos di ITB lewat jalur SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi). “Berkat dukungan teman-teman dan keluarga, saya mantap ikut SM ITB. Saya belajar dan berlatih sepanjang hari untuk mempersiapkan diri,” ungkapnya.
Dapat program dukungan daerah 3T Usaha mereka terbayar lunas ketika keduanya dinyatakan lolos dan resmi menjadi mahasiswa ITB. Rasa syukur semakin besar ketika Askal mendapat Program Dukungan Daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) yang membebaskannya dari biaya pendaftaran, UKT (Uang Kuliah Tunggal), hingga kuota tinggal asrama. “Bantuan ini benar-benar membantu banget, apalagi buat aku yang dari jauh banget di Merauke. Jadi bisa lebih tenang mulai perjalanan baru di Bandung,” ucap Askal dengan senyum lega.
Kini, keduanya memulai babak baru di Bandung. Dengan fasilitas dan lingkungan belajar yang lebih lengkap, mereka optimistis bisa berkembang. “Saya harap kita semua yang sudah diberi kesempatan untuk berada di posisi ini akan menjaga nama baik almamater dan menjadi generasi yang berguna untuk bangsa,” ujar Khalisya. Askal pun tak lupa mengajak teman-teman seangkatannya untuk saling mendukung. “Yuk kita sama-sama saling merangkul, saling support, dan jangan ragu membangun koneksi satu sama lain,” ajaknya.
Bagi para adik kelas di Merauke atau daerah lain yang bercita-cita masuk ITB, Khalisya memberikan pesan penyemangat. “Jangan pernah takut mencoba hanya karena kalian merasa tertinggal. Yakin pada diri sendiri, terus berusaha, dan jangan menyerah,” tutupnya
(Red)
