LINGKARPENDIDIKAN.COM – KOMPAS.com – Sejak 2017 Adhiguna Kuncoro menjadi satu-satunya peneliti asal Indonesia di DeepMind di London, Inggris. DeepMind merupakan divisi riset dari Google yang saat ini memimpin revolusi teknologi global. Perjalanannya ini bermula dari skripsinya saat kuliah di ITB (Institut Teknologi Bandung) Jurusan Teknik Informatika pada 2013. Ia menulis skripsi tentang kecerdasan buatan alias Artificial Intelligence (AI), padahal kala itu dia sendiri merasa ilmu ini seperti fiksi ilmiah. Adhi menilai AI masih abstrak, jauh, dan belum terasa nyata.
Pada tahun yang sama setelah menjadi sarjana Adhi langsung kuliah S2 di University of Oxford, Inggris untuk memperdalam Ilmu Komputer.
Lika-liku tak luput dari perjalanannya. “Pas di Oxford pun saya semester pertama, dua mata kuliah enggak lulus, salah satunya machine learning, topik penting dalam AI,” tuturnya, dikutip dari BBC Indonesia, Senin (25/8/2025). Ia sempat berpikir materi machine learning sangat susah.
“Tapi saya pikir namanya juga belajar, dan kalau mau jadi pakar machine learning pasti harus melewati tantangan itu,” ujar Adhi. Bahkan ia sempat mengalami Sindrom Impostor karena merasa tidak pantas di antara teman-teman yang sangat jago dan sudah jauh lebih siap secara akademik.
Namun itu justru jadi cambuk untuk bangkit dan belajar lebih giat. Pendekatan baru untuk mengembangkan AI mulai diperkenalkan pada 2013 dan Adhi langsung merasa ia ingin menggeluti perkembangan teknologi ini. “Saya kira waktu itu, ini (perkembangan) revolusioner. Sangat keren. Ini masa depan, dan saya ingin jadi bagian dari masa depan AI ini,” tuturnya. Tesisnya tentang Cross-Lingual Log Bi-Linear Dependency Parsing.
Adhi kembali ke bangku kuliah di Carnegie Mellon University, universitas di Amerika Serikat yang dianggap sebagai kiblat riset AI, untuk jenjang S2 di bidang Language Technologies, Machine Learning, Natural Language Processing, and Artificial Intelligence
Ia berfokus pada pengembangan Natural Language Processing (NLP), cabang AI yang memungkinkan komputer memahami dan memproses bahasa manusia. Hingga 2017 Adhi punya dua gelar Master of Science.(Red)
