LINGKARPENDIDIDKAN.COM – KOMPAS.com – Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu negara tujuan mahasiswa Indonesia melanjutkan pendidikan tinggi. Menurut data Institute of International Education, jumlah mahasiswa asal Indonesia yang menempuh pendidikan di AS mencapai 8.145 orang. Sementara itu, pemerintah dan akademisi di Negeri Paman Sam menegaskan bahwa keberadaan mahasiswa internasional sangat dibutuhkan untuk menjaga keberlangsungan perguruan tinggi di sana.
Dilansir dari Forbes, seorang profesor ekonomi di University of North Florida, Madeline Zavodny, menjelaskan bahwa perguruan tinggi di AS tengah menghadapi “jurang demografis”. “Perguruan tinggi dan universitas AS menghadapi tebing demografis yang menjulang. Karena pasca penurunan angka lahir pada 2007, jumlah dewasa muda usia kuliah diperkirakan akan menurun pada tahun 2025,” ujarnya dikutip dari Forbes, Senin (18/8/2025).
Akibatnya, total pendaftaran mahasiswa di perguruan tinggi AS terus merosot setelah sempat mencapai puncaknya pada 2010 hingga 2011.
Jika tak ada mahasiswa internasional, maka diperkirakan akan ada pengurangan mahasiswa sarjana sebesar lima juta dan pascasarjana sebesar 1,1 juta pada 2037 mendatang.
Selain penurunan angka kelahiran, perguruan tinggi di AS juga menghadapi tekanan dari sisi anggaran. Misalnya, West Virginia University terpaksa menutup 28 program akademik dan menghapus 143 posisi dosen akibat keterbatasan dana.
National Foundation for American Policy (NFAP) mengebutkan tak hanya mahasiswa internasional, bahkan imigran hingga anak-anak imigran di Amerika Serikat juga turut memberikan dampak positif bagi keberlangsungan pendidikan tinggi di sana.
Kondisi ini tidak serta-merta langsung melumpuhkan universitas besar. Namun, dampak terparah justru dirasakan oleh institusi kecil. “Universitas regional dan perguruan tinggi seni liberal kecil, terutama yang berada di pedesaan, menghadapi tantangan terbesar,” ujar Zavodny.
Situasinya semakin sulit karena mahasiswa internasional biasanya mempertimbangkan kualitas sumber daya yang dimiliki kampus sebelum memilih. Aspek seperti kekuatan riset maupun peluang kerja setelah lulus menjadi faktor penting. Akibatnya, universitas kecil cenderung kurang diminati.
Namun di tengah krisis ini, kebijakan pemerintah AS justru semakin menekan keberlangsungan universitas. Dilansir dari Forbes, ada beberapa kebijakan yang memengaruhi.
Salah satunya terjadi ketika Departemen Luar Negeri AS sempat memerintahkan mahasiswa internasional untuk meninggalkan negara tersebut, ditambah dengan larangan perjalanan, dan visa. Meski kebijakan itu akhirnya dibatalkan, pendaftaran mahasiswa internasional pada musim gugur 2025 tercatat turun 30 hingga 40 persen.
Selain itu, pemerintahan Trump juga berencana menghapus program Optional Practical Training (OPT) dan memperketat visa, penunjang mahasiswa internasional bekerja setelah lulus.
Hal ini membuat akses menjadi semakin terbatas yang dikhawatirkan akan mengurangi minat mahasiswa internasional untuk menempuh pendidikan tinggi di AS Terangi negeri dengan literasi, satu buku bisa membuka ribuan mimpi.
Lewat ekspedisi Kata ke Nyata, Kompas.com ingin membawa ribuan buku ke pelosok Indonesia. Bantu anak-anak membaca lebih banyak, bermimpi lebih tinggi. Ayo donasi via(Red)
